Transmigran Kumai Seberang mulai rancang mikrohidro

Jul 25, 2020 by admin
Transmigran-Kumai-Seberang-mulai-rancang-mikrohidro

Transmigran Kumai Seberang mulai rancang mikrohidro

Transmigran-Kumai-Seberang-mulai-rancang-mikrohidro

Para transmigran di Kumai Seberang, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mulai mengembangkan sumber energi mikrohidro alternatif untuk meningkatkan layanan energi bagi 275 keluarga migran migran yang dilayani oleh pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

“Kapasitas PLTS hanya 25 kilovolt ampere. Ini hanya cukup penerangan untuk rumah dan jalan, jadi kami berkomitmen untuk membangun 100 kilovolt kapasitas air mikro,” kata Sekretaris UPT Kumai Seberang Juwadi grup PLTS di Kumai pada hari Rabu di Seberang.

Juwadi menjelaskan bahwa PLTS, yang telah dipasang sejak 2013, saat ini memasok 230 rumah dan setiap rumah menerima 220 hingga 600 watt tergantung pada kemampuannya membayar biaya bulanan.

Menurut transmigran dari Pati, Jawa Tengah, saluran listrik sangat terbatas untuk mendukung perusahaan lain di rumah. Jadi mereka sepakat untuk merancang sistem pembangkit listrik tenaga mikro yang menggunakan Sungai Sekonyir.

Mereka juga menyadari bahwa, tergantung pada perawatannya, usia baterai dalam PLTS adalah maksimum 15 tahun.

“Rupanya, 168 baterai untuk penyimpanan energi saat ini bocor, enam unit bocor, meskipun mereka masih bisa menyimpan listrik,” katanya.

Harganya mahal

Dia mengungkapkan bahwa harga baterai unit Rp5 juta per unit cukup mahal,

sehingga diperlukan terobosan lain untuk menjaga penyelesaian mereka swasembada.

Pengembangan pembangkit listrik tenaga air kecil hanya dibatasi oleh dana, karena dana dari unit PLTS hanya Rp50 juta, sedangkan pengembangan pembangkit listrik tenaga air kecil membutuhkan sekitar Rp250 juta.

“Kami telah menyatakan aspirasi kami terhadap DVRD Kotawaringin Barat melalui Anggota Dewan H Zubir, semoga itu dapat dipertimbangkan,” katanya.

Beberapa teknisi PLTS juga siap untuk mempelajari desain yang lebih rinci dari teknologi mikrohidro di ITB Bandung atau di daerah lain dengan teknologi mikrohidro terbaru.

Beberapa transmigran juga menyambut baik rencana tersebut karena

ada migran yang usahanya dibatasi oleh listrik.

Saeful Anwar (23), putra almarhum Zaenal Arifin, seorang transmigran nasional teladan dari 2012, mengatakan ia sudah memiliki bisnis tiket online di lokasi migrasi, tetapi dibatasi oleh listrik ketika memesan tiket.

“Anda tidak dapat menyalakan komputer saat listrik PLTS padam,” kata pemuda yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Cilacap.

Para transmigran lain juga ingin membangun industri makanan kecil dari hasil kebun mereka.

Permukiman transmigrasi di Kumai Seberang dimulai dari 2008 hingga 2010

dengan penempatan transmigran. Sebanyak 275 keluarga ditampung, termasuk 50 persen transmigran lokal dan 50 persen lainnya dari Jawa.

Para transmigran non-lokal berasal dari Bekasi, Bandung Barat, Pati, Blora dan Cilacap. *** 1 ***

 

Baca Juga :